Minggu, 01 Juli 2012

Sejarah dan ciri Puyuh

Beberapa ratus tahun yang lalu di Jepang telah diadakan penjinakan terhadap burung puyuh, mula-mula ditujukan untuk hewan kesenangan dan untuk burung bernyanyi. Selain di Jepang, penjinakan burung puyuh liar itu dilakukan juga di Korea, Cina dan Taiwan. Beberapa hasil penjinakan itu dibawa ke Jepang. Pengembangbiakan dan seleksi yang dilakukan secara seksama sehingga menjadi suatu strain tersendiri yang sekarang dikenal dengan nama Coturnix coturnix japanica. Bibit ini sudah tersebar dibeberapa negara antara lain: di Amerika, Eropa, beberapa negara Asia, juga di Indonesia. Burung puyuh ini menjadi makin populer dan digemari karena telur dan dagingnya sebagai bahan makanan yang bergizi dan lezat, juga baik sebagai hewan percobaan untuk berbagai penelitian dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Ciri karakteristik dari burung puyuh Coturnix coturnix japanica dapat dijelaskan sebagai berikut:
  • Bentuk badannya lebih besar dari burung puyuh lainnya, panjang badannya sekitar 19 cm, badannya bulat, ekornya pendek, paruhnya lebih pendek dan kuat, jari kakinya empat buah, tiga jari kakinya kemuka dan satu jari kakinya ke arah belakang, warna kaki kekuning-kuningan.
  • Pertumbuhan bulunya menjadi lengkap setelah berumur dua sampai tiga minggu. Kedua jenis kelaminnya dapat dibedakan berdasarkan warna bulunya, suaranya dan beratnya.
  • Burung puyuh jantan dewasa: bulu pada kepala dan di atas mata pada bagian alis mata ke belakang ada bulu berwarna putih berbentuk garis melengkung yang tebal; bulu punggung berwarna campuran coklat gelap, abu-abu, dengan garis-garis putih; sayapnya berwarna campuran coklat gelap, abu-abu, dengan garis-garis putih; sayapnya berwarna campuran pula dengan bercak-bercak atau belang kehitam-hitaman, sayapnya kira-kira 89 mm panjangnya; bulun daerah kerongkongan bervariasi dari coklat muda (cinnamon) sampai coklat kehitam-hitaman; bulu dadanya berwarna merah sawo matang tanpa adanya warna belang atau bercak kehitam-hitaman.
  • Burung puyuh betina dewasa: warna bulunya sama dengan bulu yang jantan, kecuali bulu dadanya berwarna merah sawo matang dengan garis-garis atau belang kehitam-hitaman.
  • Suara yang jantan dewasa keras, sering sepanjang malam bersuara terus menerus, sedangkan yang betina tidak bersuara keras.
  • Burung puyuh mencapai dewasa kelamin pada umur sekitar 42 hari atau enam minggu. Berat badan burung puyuh betina dewasa adalah kira-kira 143 gram per ekor, sedangkan yang jantan kira-kira 117 gram per ekor.
  • Burung puyuh betina dapat berproduksi sampai 200 – 300 butir setahun. Telur sekitar 10 gram beratnya per butir atau 7 – 8 persen dari berat badannya. Kerabang telur berwarna tersifat oleh adanya variasi dari coklat tua, biru, putih dengan berisi bercak-bercak hitam, biru atau coklat tersebar pada permukaan kerabangnya. Pigmen kerabang telur berupa ooporphyrin dan biliverdin.
  • Lamanya periode pengeraman telurnya antara 16 – 17 hari.
Burung puyuh liar yang khusus ada di Indonesia, biasanya disebut "gemak", termasuk dalam genus TURNIX yang jauh berbeda dengan coturnix, perbedaan yang jelas adalah pada jari-jari kakinya.
Coturnix mempunyai 4 jari, tiga menghadap ke muka dan satu ke belakang, sedangkan Turnix hanya mempunyai 3 jari yang menghadap ke muka. Speciesnya antara lain sperti berikut:
  1. Turnix sylvatica baktelsorum. Terdapat di Cirebon, Jawa.
  2. Turnix sylvatica beccarii salvadori. Terdapat di Kendari, Sulawesi.
  3. Turnix sylvatica maculosa. Terdapat di pulau Timor.
  4. Turnix sylvatica everetti. Terdapat di pulau Sumba.
  5. Turnix sylvatica atrogularis. Terdapat di Sumatra Utara.
  6. Turnix sylvatica suscitator. Terdapat di Sumatra Tenggara, Jawa, Beliton, Bali.
  7. Turnix sylvatica rufilata wallace. Terdapat di Sulawesi.
  8. Turnix sylvatica powelli guillemard. Terdapat di Lombok, Sumbawa, Flores, Bali.
    Sumber : http://chickaholic.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar